KESULITAN biaya, memaksa Giyat (52) berhenti sekolah dan hanya mendapatkan ijazah SD. Ia lantas masuk di dunia kerja dengan menjadi karyawan di perusahaan bakpia ternama di Yogyakarta. Berkat ketelatenan dan keuletannya, Giyat berhasil mandiri dan menjadi pengusaha bakpia yang cukup ternama.
Keistimewaan yang ditawarkan bakpia Dhiyat bukan hanya rasa. Namun juga varian, selain kacang hijau, Giyat memproduksi bakpia keju serta bakpia Cokelat. Meski hanya diproduksi bila ada pesanan, bakpia keju dan cokelat tak kalah legitnya. “Setiap ke Yogya Presdir Mayora pasti mampir ke sini. Sedangkan walikota Yogyakarta hampir setiap minggu beli bakpia ke sini pula” kata pria asal Wonosari ini.
Lebih jauh ayah dari tiga orang anak ini mengungkapkan bakpia olahannya
merupakan hasil kreasi serta inovasi saat bekerja di bagian produksi.
Pekerjaan yang dijalani selama 2,5 tahun tersebut memberikan banyak
pengalaman. Hingga akhirnya ia memutuskan keluar dari pekerjaan itu dan
berupaya untuk mandiri.
Dipilihnya usaha produksi bakpia sebagai ladang bisnis karena ia
melihat peluang pasar panganan khas Yogyakarta ini masih terbuka lebar.
Apalagi pengusaha bakpia saat itu belum banyak. Dia berkeyakinan bakpia
akan selalu dicari konsumen. Selain itu bisnis makanan khas atau
oleh-oleh tidak akan terkikis oleh perubahan waktu.
Prediksi itu pun menjadi kenyataan. Terbukti usaha yang dirintis sejak
awal 1986 ini telah memberikan keuntungan yang lumayan tinggi. Rumah
yang dulu di kontraknya dan berdinding bambu, yang dijadikan tempat
produksi, kini telah menjadi miliknya. Bukan itu saja, pekarangan yang
ada di sampingnya tak luput dibelinya. Dan kini berdiri sebuah rumah
berlantai dua lengkap dengan mobil baru.
Bakpia Dhiyat awalnya dititipkan ke toko
Pemasaran di awal usaha dijalani Giyat penuh kesabaran. Suami dari
Tusiyem ini harus rela berkeliling hingga Magelang untuk menyetorkan
bakpia ke toko-toko ternama dengan menggunakan sepeda motor.
Namun berkat keuletan serta ketelatenannya bakpia buatannya diterima
pasar dengan baik. Pesanan demi pesanan terus berdatangan. Bila dulu
harus repot-repot memasarkan atau menitipkan ke toko-toko di Yogyakarta
hingga Magelang, lambat laun pembelinya justru datang langsung ke rumah
Giyat. Maka sejak tahun 1989, Ia pun memutuskan berhenti keliling.
Selain dicari pembeli dalam kota, bakpia Dhiyat juga diburu pecinta
kuliner luar kota. Seperti Purworejo, Purwokerto, Semarang, Surabaya,
Bandung, Jakarta sampai dengan Palembang. Bahkan bakpia produksi Giyat
ini pernah dibeli oleh Presiden SBY untuk hidangan di acara forum Lurah
dan Kepala Desa se-Indonesia di Istana Negara. Tidak hanya sampai di
sini, bakpia Dhiyat juga sering dijadikan oleh-oleh TKI yang akan
kembali ke Malaysia atau Jepang.
Kini di rumah produksinya, meski di tempat tersembunyi, dengan dibantu 3
orang pekerja, ia mampu menghasilkan 115 - 120 dus di hari biasa atau
sekitar 25 kg kacang hijau. Sedangkan di hari libur panjang, dengan
dibantu 11 orang, dalam sehari mampu memproduksi hingga 5.000 dus.
Seperti pemasaran pada umumnya, Giyat menjual bakpia seharga Rp
15.000,-/dus berisikan 20 biji. Sedangkan untuk bakpia Cokelat
ditawarkan dengan harga Rp 20.000,- dan bakpia bercita rasa keju hargnya
mencapai Rp 35.000,-/dus.
Asal usul bakpia Bakpia Pak Dhiyat bisa di klik
Asal usul bakpia Bakpia Pak Dhiyat bisa di klik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar